Relung Jiwa

Ada momen dimana rasanya sendirian di rumah memberikan rasa kesepian yang ga terperikan. Meski ada hewan peliharaan disampingmu, ada kehadiran anggota keluarga dalam hidupmu, tidak mencegah kamu kehilangan pegangan untuk bisa merasakan koneksi dengan sekitarmu, dengan hatimu, dengan jiwamu.

Momen seperti ini berat. Rasanya hati kita ditimpa logam seberat ribuan ton, dan dia berontak, sekuat tenaganya, dan tubuh kita menjadi ajang konflik antara sensasi berat yang diciptakan oleh “kesepian” melawan “kebebasan” yang merupakan kondisi natural hati kita.

Momen seperti ini ideal untuk mengamati akar dari perasaan “kesepian” yang menggerogoti hati kita. Duduk dan berikan perhatian yang seksama ke bagian tubuh kita yang terasa berat. Rasakan bentuknya, ukurannya, telusuri pinggirannya, sejauh mana batasnya, apa warnanya, dan teksturnya. Perlahan dekatkan perhatianmu, berikan napasmu, hirup dan hembuskan ke arahnya. Sampai perlahan kamu rasakan intensitasnya memudar, perlahan mengecil ukurannya, terkadang sensasinya bergerak dari satu bagian ke bagian lain. Jika bisa jangan lepas perhatianmu darinya, jika terlepas, ga usah cemas, ikuti lagi dengan seksama, dengan perlahan, dengan lembut.

Dia akan mengeras dan seiring hembusan napas dia akan melembut, lanjutkan upayamu, hingga kau pelan-pelan bisa merasakan perubahan bentuknya, ukurannya, intensitasnya, gerak-geriknya. (Namun jangan sampai “mengubahnya” menjadi tujuanmu melakukan ini, karena dia akan paham, dan dia akan mengelabui pikiranmu.) Lanjutkan, hingga akhirnya kamu paham dimana tempat dia sesungguhnya dalam misteri hidupmu dan menolongnya pulang kembali ke ruas peraduannya.

Pada akhirnya, kamu ingin memberikan terimakasihmu atas pelajaran yang dibawanya kepadamu, dan camkan, hanya kamu yang memiliki pemahaman itu, agar bisa dibagi kepada sanak saudara dan teman-teman hidupmu.

Semua yang kamu pikir menakutkan dalam hidup ini akan membawa ilmu dari “Selubung Misteri” yang dimiliki oleh “Hidup” untuk disampaikan kepada relung jiwamu.

Kenapa?

Agar tujuan hidupmu di kehidupan kali ini mencapai target pertumbuhan jiwa yang diperlukannya.

(Catat: ini adalah narasi yang aku anut untuk bisa melalui semua pengalaman dengan rasa syukur. Coba kamu sesuaikan dengan narasi yang bisa kamu percaya.)

 

***

 

Source image: https ://images.pexels.com/photos/556665/pexels-photo-556665.jpeg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.