Harta Karun

Mencoba menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang luwes sekaligus elok membutuhkan ‘niat’ ekstra bagiku. Aku ingin menulis dengan usaha minim dan menghasilkan kalimat-kalimat yang mengalir dan mudah dicerna.. agak mustahil dilakukan ketika bahan bacaan yang aku serap sehari-hari adalah bahasa asing, ketika orang yang aku temui sehari-hari bukan pengguna bahasa Indonesia tulen.

Membaca tulisan-tulisan yang mewarnai masa kecilku dengan cerita-cerita yang menggugah imajinasi, agak jarang kutemui saat ini. Cerita yang aku maksud adalah hasil terjemahan karya-karya Enid Blyton yang dicetak sebelum tahun 1990.

Itu adalah koleksi mahal bagiku. Terjemahan karya-karya beliau setelah 1993 dilakukan oleh orang yang lebih ‘modern’ dalam berbahasa Indonesia, versi Gramedia, dan kurang masuk untuk seleraku.

Dan buku terjemahan-terjemahan berbagai bahasa lainnya yang masuk setelah itu… termasuk buku Harry Potter yang terkenal di awal 2000-an, bisa lebih menggugah.

Setelah itu aku belum pernah membeli buku novel terjemahan di Indonesia lagi, hanya manga yang non-stop aku baca terjemahannya versi Indonesia — dan ketika versi terjemahan bahasa Inggrisnya gratis dibagi di mangafox, aku sukses berhenti baca manga versi Indonesia.

Alhasil setelah beberapa tahun tidak menyentuh literatur berbahasa Indonesia, dan sekali-sekali membuka website berita Indonesia seperti detik.com atau kompas.co.id, ketinggalanku dalam memahami perkembangan bahasa di Indonesia lumayan terasa.

Namun, ketika akhirnya aku menemukan literatur yang ditulis dengan hati-hati dan penuh niat yang membuatku mengalir membacanya dan menggugah imajinasiku, rasanya seperti menemukan harta karun baru.

Dan untungnya masih ada orang-orang yang bisa menulis dengan gaya seperti itu.

Sekian banyaknya karya-karya tulis yang sisi moralnya diumbar dengan cara bercerita yang menggurui, tetapi selalu ada penulis ulet yang bisa menyampaikan pesan moral mereka dengan cara yang tidak langsung, namun justru lebih bisa diterima.

Sekian banyaknya karya-karya yang sarat dengan nilai-nilai agama, namun tetap ada penulis-penulis berpikiran bebas yang karya tulisnya lebih menggurat kemanusiaan daripada pesan-pesan dramatis.

Dan yang paling mengesankan bagiku, sekian banyak karya-karya penulis yang isinya adalah cara berpikir yang terbatas, sinis, dan skeptis, namun sesungguhnya menunjukkan kemampuan berpikir yang kurang digali lebih dalam. Karya-karya yang lebih enak dibaca di blog-blog pribadi, karena merupakan proses menuju kematangan kesimpulan berpikir, bukan disebar di tempat-tempat umum yang pada akhirnya hanya menjadi ajang benar dan salah.  — Namun tetap ada mereka yang menulis dengan detil dan jujur, menyeluruh dan lengkap.

Harta karun bagiku tak ternilai harganya. Dan penulis-penulis yang namanya meledak di Indonesia seperti Dee Lestari dan Ayu Utami memang terbukti karya-karya mereka memberikan imajinasi luar biasa di benakku.

 

Sebuah literatur yang bagus akan menginspirasi pembacanya untuk menjadi penulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s