Ngedumel tentang Indonesia, LAGI!

Aku sering berpikir, apa yang membuatku bangga menjadi orang Indonesia?

Dari kecil aku dibesarkan oleh orang tuaku yang berasal dari kota-kota besar di Indonesia (bokap dari Jekate, nyokap Bandung cuy), dengan pengaruh pendidikan kebarat-baratan (sekolah Islam tu dari barat juga kan?), dengan nama yang juga kebarat-baratan, kebetulan memang ada keturunan kebarat-baratan… namun setelah dewasa sering disapa “Ni hao ma?” sama orang yang barat tulen.

Jadi bisa diperkirakan wajahku lebih menjurus ke kaum yang cukup dikucilkan di Indo.

(Tapi aku kagum dengan Pak Ahok — seriyes, saya dukung kepemimpinan beliau andaikan ni orang ga meremehkan nyawa orang utan demi hubungan bilateral dengan Korea Utara (WTF?). Seriyes. Cek Google.)

Namun oleh kaum itu pun aku langsung ketahuan bukan asli dari keturunan mereka. (Ahoy!!)

Eniwei.. kalo jalan-jalan di Asia Tenggara mukaku lebih diterima karena mirip sana-sini. (Agh, akhirnya ada nilai positif :-P)

Terus.. bukan, bukan muka yang bikin aku jadi keki dianggap warga Indonesia. Bukan pula akte kelahiran yang tulen dari ibukota negara. Ataupun KTP yang ga jadi-jadi fotonya.

Bukan kebudayaannya.. kekayaan alamnya.. keindahan pariwisatanya..

Enggak. (FYI, untuk ketiga hal diatas aku super duper bangga jadi orang Indonesia, they are the treasures of this blessed country.)

Yang selalu bikin miris selama ini dengan Indonesia ya orang-orangnya.

Apa lagi?

* * *

OK, buat sekedar disclaimer, orang-orang yang aku maksud adalah mereka yang segala aktifitasnya memiliki dampak ke diri SAYA/GUE/AKU/ICH/MOI/WO/ME secara langsung maupun engga langsung. Kalo yang ga ngerasa ya ngga usah dirasa-rasain.

Lahir di tahun 80-an dari orang tua yang masih super miskin, hidup di kontrakan terbuat dari papan dan isinya lebih kecil dari kamar kos-kosan yang muat cuma kasur single dan lantai polosan dari tanah.. Oya di pojokan ada kamar mandi dengan toilet jongkok dan ember kecil buat mandi dan ambil air dari sumur di luar. (Eco-friendly? No wonder I love nature so bloody much…)

Untung rumah nenek cuma beda 500 meter lewat gang sempit yang banjir tiap ujan. Kondisinya ga jauh beda, cuma ukuran lebih geda aja, dan isinya lebih rame (paman-paman pada masih tinggal disana, nemenin eyang katanya). Eniwei, konon masa-masa itu kehadiranku sebagai cucu pertama disambut dengan riang gembira.

Rupanya mereka kekurangan anggota keluarga perempuan. Alhasil begitu sepupu-sepupu perempuan yang lebih kecil pada berlomba lahir, perhatian yang tadinya terpusat buatku langsung meluber ke mereka… seperti sawah yang kekurangan irigasi, kering bo rasanya. (Mungkin itu yang mini-me pikir? Hm..)

Dan dengan segala cara mini-me rupanya berusaha untuk mengingatkan para kaum dewasa kalo aku kekurangan perhatian mereka. Tapi tampaknya cara yang aku gunakan lebih mengarah ke kekejaman Hitler pada kaum Jerman yang minoritas, jadi tiap aku datang ke ruangan yang ada sepupu-sepupu mini, mereka langsung diamankan sebelum jejeritan membahana di rumah tua yang mungil itu.

(Kinda wonder.. who taught me to do all that actions? Whee!)

Memoriku dari situasi ketika itu tertanam berkat setiap tante dan paman ketemu aku mereka selalu mengingatkan betapa “kejamnya” aku terhadap sepupu-sepupu miniku. (What charming aunts and uncles I had.. I know!!)

Yang lebih kocak ketika adik laki-lakiku lahir, dia juga jadi korban mini-me tentunya. Soalnya dia pake pram yang mini-me dulu pake, maklum bokap-nyokap belom ada dana untuk beli baru. Jadi ya pake yang udah ada. Rupanya manajemen emosi mini-me sama sekali ga distimulasi. Ga disiapin untuk berkembang. Yang dilakukan oleh para tetua adalah dealing gimana problem yang terjadi kalo mini-me ngamuk diminimalisir.

(Sekilas renungan: kok mereka ga kepikiran cara untuk membuat mini-me bisa menerima adik-adik sepupu dan adik kandungnya ya?)

Makin mini-me geda, makin sering ucapan-ucapan para tetua (termasuk eyangku yang tercinta) mengenai kelakuan tidak pantas, egois, jahat, kejam yang mini-me lakukan ke adik-adik sepupu dan kandung berseliweran.

Dan itu cukup bagi mini-me akhirnya untuk menyadari, mereka para tetua yang doyan nge-judge itu adalah problem solver yang menyedihkan. In their own real life.

But at least they survived that way until they die.

Tapi itu cukup makan waktu beberapa dekade sampe akhirnya aku menyadari apa yang dialami mini-me merupakan situasi yang banyak dialami anak-anak yang orang-orang dewasa di sekitar mereka kurang pendidikan mengenai perkembangan anak-anak.

Oh ya, anak-anak itu ada untuk meneruskan garis keturunan orang tuanya? Some people still think like that.

Anak-anak sebagai gift dari Tuhan?

Kayaknya masih dikit pemahaman seperti itu ya… yang banyak aku baca malah anak-anak sebagai “amanah” dari Tuhan. WTH??

(Mesti cek makna amanah saat ini interpretasinya apaan.)

Aku setuju sama orang-orang yang menerima anak sebagai berkah dalam hidup mereka.

Dalam level spiritual, hubungan anak dan orang tua memiliki koneksi lebih mendalam dari sekedar ajaran agama yang kelabu dan tasteless (jujur, tiap ngebayangin ajaran agama yang aku terima sejak kecil lidahku langsung terasa numb – yuck?).

Untuk seorang ibu mencak-mencak karena anaknya ga nurut apa yang dia suruh KARENA di ajaran agama katanya surga di telapak ibu, ATAU menurut nabi A anak harus patuh dan hormat dengan orang tua, ATAU menurut nabi B anak durhaka doanya ga bakal didengar oleh Tuhan (WTH?) — untuk semua alesan seperti itu.. setelah para suami isteri paham (OK, ini terlepas dari mereka yang dipaksa nikah dari kecil — dan UNFUCKINGFORTUNATELY praktek child-bride masih marak di abad ini — WTF!!) kalo mereka nikah, si isteri kemungkinan BESAR bakalan mengandung, dan akhirnya kemungkinan BESAR bakalan punya anak berarti mereka dapat anugerah dari Tuhan mereka —

WHAT THE FUCKKK???

Yang paling ajaib adalah mereka yang nangis-nangis waktu belom dikasi anak, pas akhirnya dikasi, anaknya terus dimencak-mencakin..

DID YOU FORGET??? HOW HUMBLE YOU WERE WHEN YOU WANTED FOR THEIR PRESENCE DESPERATELY IN YOUR EMPTY LITTLE LIFE?

Mungkin ini lebih berlaku buat orang tua yang ga ngeplan anak-anak mereka dan sekali bersin atau kentut langsung tekdung.

Kalo sampe yang mencak-mencak adalah orang tua, terutama ibu, yang nangis-nangis karena belom juga punya anak…

Yang kayak gini mah yang paling bego.

“Saya mencak-mencak marahin anak karena takut dia masuk neraka.”

Karena… kalo dia masuk neraka nanti kamu diajak juga ya?

Hayo…

“Saya mencak-mencak marahin anak karena dia kebangetan ga tau betapa penderitaan dan pengorbanan yang aku lakukan saat aku hamil dia –”

Ya emang dia ga tau.

KAMU PIKIR DIA PERLU TAU???

 

OH MAN… so fucked up.

 

Yang pengen tekdung siapa, yang udah siap mental untuk ngalamin kehamilan siapa, yang pengen punya anak siapa.. eh pas anaknya hadir dimencak-mencakin dengan alesan “penderitaan dan pengorbanan” yang dialami selama hamil.

 

BEGO.

 

 

* * *

 

 

 

In the end of the day, of course I’m not complaining about Indonesians in general… just some of the unfortunate ones that slipped through my life.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s