Bahas: Disfungsi Pendarahan Rahim

Bulan Januari 2016 menjadi putaran awal kami membikin anak dengan penuh intensi. Ga sekedar “kalo jadi syukur ya tuhan, kalo engga ya kami gapapa”.

Dari siklus ini aku belajar makin banyak mengenai proses biologis tubuhku. Mulai dari berapa lama normalnya aku mens, flownya bagaimana, symptomsnya apa aja, signsnya apa aja, makanan yang nolong, aktifitas yang aku lakukan, minat yang datang dan pergi, interaksi dengan orang-orang sekelilingku, terutama dengan partner tercinta…

Semua ga luput. Sampe-sampe ketambahan psychosomatic symptoms berkat placebo effects yang mesti dipisah baik-baik dari authentic ones… pfft.

Kalo ada yang bilang ciri-ciri hamil (awal, usia 1-3 minggu) itu:

  1. Ga ada mens
  2. Mual-muntah
  3. Munculnya Linea nigra
  4. Timbul Montgomery glands
  5. Keluar colostrum
  6. Urat biru/hijau – varises
  7. BBT (Body basal temperature) tinggi
  8. Payudara nyeri, termasuk bagian puting
  9. Perut bagian rahim kiri kanan bagaikan ditikam-tikam jarum dari dalem
  10. Capek
  11. Insomnia
  12. Peka dengan bau
  13. Mood swing

…maka ada aja cerita yang menyangkal ciri-ciri yang aku temukan bertebaran di internet.

Yang paling bikin stress tampaknya mereka yang hamil namun tetap mengalami pendarahan mirip mens tiap bulan. Pendarahan ini disebut abnormal atau dysfunctional uterine bleeding (pendarahan rahim abnormal atau disfungsi pendarahan rahim). Menurut Stöppler, 2015: diagnosa ini hanya diberikan bagi mereka yang mengalami pendarahan ketika sedang hamil TANPA ada penyebab apapun — alias, penyebabnya tidak diketahui (bukan penyakit, trauma, atau infeksi) selain dugaan terjadinya manajemen hormon yang kacau balau. Konon yang mengalami seperti ini kebanyakan wanita dari benua Afrika, namun tidak berarti yang berasal dari Asia, Australia, TimTeng, Amerika dan Eropa tidak mengalaminya.

Kondisi ini terkait dengan siklus wanita yang tidak mengalami ovulasi. Jadi, wanita ini mengalami pendarahan mirip menstruasi, namun bukan disebabkan oleh keluarnya sel telur dari ovarium.

Namun Stöppler melanjutkan kalo situasi dimana abnormal uterine bleeding tersulut bersamaan dengan keluarnya sel telur MUNGKIN saja terjadi… *garuk-garuk kepala* OK, editor artikel yang aku baca mestinya bisa ngebikin penjelasan ga muter-muter gini, tapi well, so far ini penjelasan yang paling menarik menurutku.

Di beberapa artikel lain, seperti versi Mayo Clinic (2014), mencoba memberi penyebab abnormal uterine bleeding sebagai kehamilan ektopik, keguguran, molar pregnancy, dan implantation bleeding (untuk pendarahan di trimester awal); placental abruption, incompetent cervix, dan uterine rupture (untuk pendarahan di trimester kedua atau ketiga).

Yang pasti, pendarahan ketika hamil merupakan pertanda buat siapapun yang mengalaminya untuk segera ke dokter untuk memastikan bahwa kondisi kehamilan tetap sehat dan baik.

Selamat bikin anak dan kalo sudah hamil semoga sehat dan senang senantiasa… zzz.

REFERENCEs:

Stöppler, M. C. (2015). Vaginal Bleeding. Retrieved January, 2016 from http://www.emedicinehealth.com/vaginal_bleeding/article_em.htm#what_is_abnormal_vaginal_bleeding.

Mayo Clinic. (2014). Bleeding during pregnancy. Retrieved January, 2016 from http://www.mayoclinic.org/symptoms/bleeding-during-pregnancy/basics/causes/sym-20050636.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s