Suka Duka Seni Bikin Anak

Menjelang 5 tahun aku menjalani pernikahan yang ritmenya naik turun dengan seorang laki-laki yang kesan positifnya lebih kuat daripada negatifnya, kami memutuskan untuk mulai serius bikin anak.

Sebelumnya kami menggunakan paham “go with the flow” dengan pikiran positif kalo usia kami yang muda dan fisik kami yang fit akan membuat bikin anak secara “natural” semudah orang bersin dan pup.

Ternyata saya salah, sodara-sodara.

Bikin anak, atau tepatnya — gagal membikin anak — dalam 4 tahun membuat aku lumayan shock. Kepedeanku dan suami lumayan sirna, dan niat awal yang romantis dan mellow yellow menjadi panik dan ketakutan.

Aku mulai berpikir jangan-jangan aku mandul, ga subur, endometriosis, pH tubuh terlalu asam, sperma suami kurang banyak dan lemah, alergi sperma suami, dan seterusnya…

Proses yang meletihkan.

Yang lebih membuat stress tentunya adalah memikirkan pikiran dan pandangan anggota keluarga dan teman-teman pergaulan. Entah itu kebingungan, tidak sabar, atau tatapan kasihan… semua membuatku mual.

Akhirnya kami memutuskan untuk fokus dengan hubungan kami berdua. Kami pasangan muda, baru menikah dua tahun, mari enjoy saja.

As if.

Tahun ketiga aku break down karena depresi. Melihat sekeliling teman-teman yang baru menikah langsung tekdung, aku akhirnya memilih untuk introspeksi keputusanku dan suami untuk membuat anak.

Apakah aku ingin punya anak agar dianggap sebagai keluarga “normal”?

Apakah aku “siap” punya anak? Badan melar, tinggal jauh dari orang tua, masih sibuk kerja dan kuliah bersamaan?

Apakah suami “siap” menjadi bapak? Apakah punya anak hanya keinginan aku pribadi? Terlalu egoiskah kalo gitu?

Fiuh.. gelombang keraguan yang non-stop membuatku memutuskan untuk menunda research bikin anak ataupun periksa ke dokter.

Fast forward setahun kemudian. Awal 2015 awal mendadak mulai mendapat mimpi seputar anak-anak. Kondisi hubunganku dan suami ketika itu adem ayem dan kegiatanku hanya terfokus pada kuliah. Aku belum siap mengutarakan ke suami tentang minatku yang berhubungan dengan DIY produksi anak, namun diam-diam aku mulai memperbaiki kondisi giziku agar lebih “baby-friendly”.

Selama 2015 sampai akhir tahun aku terus mendapat dorongan internal (atau spiritual) untuk menyiapkan kedatangan anggota keluarga baru. Akhirnya akhir tahun aku mulai research mengenai proses membuat anak.

Bukan main menariknya segala informasi yang tersedia di internet. Aku mulai eksperimen dan membeli perkakas yang dibutuhkan seperti pregnancy test packs, OPKs (ovulation prediction kit), dan digital thermometre. Ditambah dengan suplemen untuk hormonku, hormon suami dan physical excercise untuk menguatkan fisik dan mental kami, tampaknya kami good to go!

Awal 2016 akhirnya aku menjadwalkan pertemuan dengan dokter deket rumah. Aku beruntung ketemu GP (general practitioner) yang cepat tanggap. Setelah mendengar kondisiku dan apa yang aku harapkan dalam jangka pendek, si dokter langsung menjadwalkan aku untuk pap smear, blood test, dan ultra sound.

Sejauh ini aku menemukan beberapa kondisi tubuh yang “membantuku” menjadi NON-baby friendly; contohnya: dysbiosis berkat candidiasis, retroverted retroflexed uterus, dan low BBT temperature.

Akhirnya aku diberi resep untuk melenyapkan candidiasis dengan oral Nystatin, kemudian diberi link-link yang membantu researchku sehubungan dengan ahli kandungan seputar kota yang paling cocok bagiku, dan saran untuk mencoba “bikin anak” selama 3-6 bulan dengan metode BD (baby dance atau sex) selang-seling mulai hari ke 9 sampai hari ke 16 dalam siklus menstruasiku. Selama itu juga disarankan untuk mencatat semua tanda-tanda yang dialami setelah ovulasi sampai positif kehamilan atau menstruasi tiba.

Sejauh ini, aku menyadari baaaaaaanyak banget hal yang sebelumnya aku super duper ignoran. Selama beberapa dekade hidup sebagai perempuan, aku baru tahu kalo mau hamil, sperma harus tetep siap siaga sampai ovulasi terjadi. Ovulasi hanya terjadi sekali dalam sebulan. Dan kalo saat ovulasi terjadi ga ada sperma, berarti ga ada kehamilan.

Konsep sederhana seperti itu baru aku pahami mekanismenya setelah nyaris 5 tahun menikah. Tidak pernah aku dengar penjelasan teknis seperti ini dari ibu maupun ibu mertuaku. Mereka semua “mungkin” tipe perempuan yang bersin sekali langsung tekdung. (Dan tidak pernah aku membahas hal-hal beginian dengan ibu-ibu sepergaulanku… tampaknya mereka juga sekali pup langsung tekdung.)

Untung aku ga seberuntung mereka. Kalo engga mana bisa sharing cerita beginian.

Moving on..

Pada sikus kedua proses bikin anak ini, aku mulai secara religious mencatat suhu tubuh basal pada pukul 5 pagi. Minimal setelah 4 jam terlelap. Untuk siklus menstruasiku yang rata-rata 28 hari, aku mengalami ovulasi pada hari ke 14 (Note: ovulasi ga selalu terjadi pada hari ke-14, tapi di siklus terakhir OPKs mendeteksi ovulasiku 2-3 hari setelah hari ke-14). Dan yang aku telaah, suhu tubuhku ketika menstruasi rata-rata 36.0 derajat Celcius. Setelah ovulasi naik 0.2-0.3 derajat, dan seminggu setelah ovulasi naik 0.6 derajat. Kalo terjadi pembuahan, pada hari ke 8 suhu tubuh bisa meningkat drastis, atau menurun drastis, dan kemudian meningkat lagi di hari berikutnya.

(Yang terjadi sejauh ini adalah merayap naik perlahan-lahan.)

Ketika ovulasi akhirnya terjadi di hari ke 16 suhu tubuhku naik 0.2 derajat, kemudian turun 0.1, kemudian naik lagi 0.1, dan hari berikutnya sama datar, kemudian naik lagi 0.1 derajat, dan kemudian sama datar… pagi ini baru ada pelonjakan lumayan, 36.6 dari sebelumnya 36.3 derajat Celcius, lumayaaaan.

Sejauh ini aku melakukan olah raga yoga dan strength-training / weight-lifting. Makanan lebih fokus ke vegetarian style dan konsumsi hewani berupa seafood, soalnya belom mampu nyetok daging-daging organik, hehe. Dan sekalian menghindari makanan yang diproses berlebihan, msg, flavoring, colouring, preservatives, dan added hormones.

Intinya, fokus dengan makan bahan makanan yang minimal proses dan menghindari makanan yang mengandung zat-zat yang bisa merusak kestabilan hormonku (dan hormon pasangan tercinta).

So far so good.

Saat ini hari ke-8 setelah ovulasi. Aku masih menunggu kepastian hamil atau tidak.

Semoga hasil positif aku terima ASAP.

Wish me luck and sticky healthy baby dusts!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s