Subjektif

Mood sarkastikku melambung di level 8.5 dari ketinggian 10 level, menanggapi isu kesehatan yang beberapa tahun lamanya membuatku memutuskan untuk mempelajari mengenai nutrisi, makanan, obat-obatan herbal, dan seni kinetik.

Dari seorang ignoran yang super pede kalo dari kecil bukan tipe penyakitan, sampe menjadi si super peka yang mengawasi setiap label dan berita yang diterbitkan dokter Google.

Dari penelan semua cerita konspirasi bulat-bulat sampe akhirnya menyelam ke laut skeptisisme yang memamerkan scientific-basednya tanpa menyadari kalo semua hal yang mereka ambil pun subjektif.

Akhirnya perjalananku sampe di titik dimana awal dan akhir kembali menjadi satu.

Every fucking thing depends on yourself. Not what your doctor, government, parents, teachers, or spouse said.

Trust your self, then you know you are fine.

Sesederhana itu. Tapi aku lega setelah ngubek-ngubek dengan waktu dan dedikasiku selama ini. Otherwise, it’ll just be another definition made by other people in this universe I live in.

Nah, wouldn’t want that, would you?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s