Berpikir Kritis – “Critical Thinking”

Aku mengecam blogger ataupun jurnalis yang memberikan nasihat kesehatan untuk penyakit yang berbahaya ketika tidak memiliki dasar ‘scientific method’ sama sekali.

Dan kita semua yang pernah melakukan diagnosa pribadi akan tahu betapa buwanyaknya blog-blog macam itu bertebaran di internet. Tanpa kualifikasi kedokteran ataupun ilmu pemahaman biologi yang mumpuni.

Semua berdasarkan: “(coba masukkan nama obatnya) itu berhasil buat gue, maka pasti bisa berhasil buat kamu.”

Itu namanya testimonial. Dan sifatnya anekdotal.

Dan tenang, bukan cuma kamu yang pernah kena, aku pun sudah khatam bolak-balik dengan pengalaman yang sama di belahan waktu yang lalu.

Naifnya.

Tapi hey, gapapa, namanya juga belajar, kita semua pasti mesti melalui fase kenaifan sebelum menjadi seseorang yang paham.

(Dan yang paling parah adalah otoritas kesehatan yang berbohong untuk kepentingan pribadinya. Contoh, dokter yang mengatakan hanya obat yang dia jual yang bisa mengobati penyakitmu dengan ampuh.)

Yang paling mudah terpengaruh dengan ide-ide kesehatan alternatif yang tersebar bebas di internet adalah mereka yang paling kurang memiliki “critical thinking” — cara berpikir kritis.

Berpikir kritis adalah sebuah keahlian yang mesti diolah dengan konsisten. Artinya, itu bukan ilmu yang berdasarkan bakat atau wangsit atau genetik. Berpikir kritis membuat manusia memiliki nilai kecerdasan dengan level yang berbeda dengan mahluk primata lainnya, karena berpikir kritis hanya dimiliki oleh mahluk yang berbahasa.

Well, yang pasti: hanya karena kamu punya IQ, EQ, dan SQ tinggi bukan berarti kamu punya critical thinking skill.

Kita udah tau kan bedanya berpikir kritis (critical thinking) dengan bersikap kritis (being critical)?

Ada buwanyak definisi critical thinking, karena banyak orang cerdas yang menawarkan versi masing-masing.

Dari penulis ini dijelaskan bahwa berpikir kritis adalah:

A process by which we use our knowledge and intelligence to effectively arrive at the most reasonable and justifiable positions on issues, and which endeavors to identify and overcome the numerous hindrances to rational thinking.”

Intinya:

Berpikir kritis adalah proses dimana pengetahuan dan kecerdasan yang kita miliki dipergunakan dengan efektif agar bisa berpikir secara rasional, sehingga kita sampai pada kesimpulan yang paling masuk akal dan valid.

Langkah-langkah berpikir kritis itu susah-susah gampang. Yang pasti, ini terutama buat orang yang terlalu gampang percaya dengan apapun (tahayul, ataupun ideologi tertentu, atau apapun kata orang lain), atau orang yang terlalu sulit bersikap objektif, atau orang yang peragu, untuk langkah awal, bersikap open-minded sekaligus skeptis bisa membantu.

Terlalu skeptis membuat kita ga percaya apapun dan ga bisa komit melakukan apapun, namun kurang skeptis membuatmu terlalu naif dan mudah percaya. Jadi ini adalah teknik yang aku masih banyakin latihan berkat tahunan sukses dilatih menjadi seorang “believer” oleh berbagai level masyarakat sekelilingku.

Gunanya berpikir kritis secara personal:

  1. Percaya diri
  2. Makin cerdas dan makin “terlihat” cerdas
  3. Makin kritis pada diri sendiri, yang pada akhirnya merupakan bentuk introspeksi diri yang produktif
  4. Makin menghargai sebuah pendapat yang valid dan masuk akal
  5. Bisa melindungi diri dari hoax, fitnah, penipuan, dan emosi yang tidak efektif … (Hey, tau ga kalo kebanyakan orang guwampang banget ketipu sama diagram dan angka-angka statistik?)

Guna berpikir kritis secara interpersonal:

  1. Menjadi si pemecah masalah.
  2. Melindungi orang dari berita bohong atau fakta yang salah
  3. Mencegah perdebatan yang buang-buang waktu
  4. Meningkatkan kecerdasan sekelilingmu, otomatis meningkatkan kesejahteraan sekelilingmu
  5. Menyebar ilmu kepada penulis-penulis yang tidak peduli dampak tulisan mereka (ini terutama untuk para jurnalis yang sembarangan dan tanpa etika menulis apapun demi kepuasan pribadi)
  6. Menjadi pendidikan untuk generasi selanjutnya. Negara yang penduduknya bisa berpikir kritis memiliki kemajuan di berbagai bidang ilmiah dan pendidikan yang signifikan.

Guna berpikir kritis secara intrapersonal: kamu bisa menghargai kepercayaan atau tuhanmu dengan lebih mendalam, bukan cuma beragama karena takut masuk neraka, takut dihukum keluarga, takut dimusuhi satu kampung, takut dianggap kafir… tapi kamu beragama karena kamu TAHU (bukan hanya percaya) dari lubuk hatimu siapa tuhanmu (atau landasan kepercayaanmu).

Piye? Makin tertarik untuk berpikir kritis ga?

Berpikir kritis itu BUKAN berpikir gimana caranya ngebuktiin bahwa ide yang kamu punya itu paling benar. Dan bukan menyalahkan orang lain karena kamu merasa mereka ngaco tanpa bisa menjelaskan dengan detil dimana kengacoan mereka.

Lebih jauh lagi, mengutip dari penulis yang sama, dia menjelaskan bahwa berpikir kritis itu BUKAN:

  1. Mencari-cari kesalahan orang, karena critical thinking sifatnya objektif
  2. Menyamakan pendapat dengan orang lain, karena critical thinking tiap orang dipengaruhi dengan prinsip yang dimiliki masing-masing orang — dan tidak ada orang yang memiliki prinsip hidup yang sama… (mungkin kecuali orang kembar, kali? Kayaknya engga ya.)
  3. Sesuatu yang mengancam keunikan masing-masing individu. Tidak akan mengubah siapa kamu, hanya meningkatkan keobjektifanmu.
  4. Kepercayaan atau keyakinan
  5. Sesuatu yang merendahkan perasaan atau emosi berpikir
  6. Tidak semerta-merta mendukung segala pernyataan yang memiliki dasar-dasar ilmiah — Masyarakat kita mudah tertipu dengan pernyataan yang diberikan oleh orang-orang yang mengaku “ahli” atau “orang penting” di dunia kesehatan. (Heck, orang-orang kita mudah tertipu dengan testimonial di internet…)
  7. Bersifat persuasif atau mengajak. Kebanyakan yang bersifat persuasif itu “sales, politikus, atau selebriti” dan mereka tidak pernah berbicara menggunakan “critical thinking“. Atau pernah? Well, aku ga pernah liat yang menggunakannya..

Seorang yang berpikir kritis akan memiliki hal-hal berikut:

  1. Berpikiran terbuka – Open mindedness
  2. Skeptis yang seimbang – Healthy skepticism
  3. Kesehajaan intelektual – Intellectual humility
  4. Kebebasan berpikir – Free thinking
  5. Motivasi tinggi – High motivation

Penjelasan yang detil dan mendalam ada di artikel yang dia tulis, dan kalo Inggrismu oke punya, silakan berkunjung dan menimba ilmu disana.

Untuk saat ini, perkenalan mengenai cara berpikir kritis sudah cukup. Kalo ada yang minat untuk dilanjut, pasti akan ada update.

Source image: http://mayfairconsultants.co.uk/wp-content/uploads/2013/08/Critical-Thinking-Skills-Tuition-and-Courses-London.jpg

Advertisements

One thought on “Berpikir Kritis – “Critical Thinking”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s