Mengenai negara dan agama tercinta

NOTE:

Post in pernah dipublish di blog (agak)-lamaku yang sudah RIP. Sedikit koreksi kiri kanan seiring dengan tambahan ilmu yang aku telah pelajari. Ke depannya mungkin bakal diutak-atik sampe terasa pol.

Maaf sebelumnya, ini adalah pos terpanjang yang aku bikin dan busuk dengan bau agama dan negara, namun jika tetap ingin melanjutkan baca, aku sudah memberi peringatan. Isinya penuh dengan subjektifitasku.

Silakan:

ENJOY ** ENJOY ** ENJOY ** ENJOY

Kamu pernah disuruh oleh ibumu untuk “tampil anggun dan layak” soalnya mau ke pesta kawinan yang akan bertemu dengan tetangga, saudara, dan rekan-rekan sejawat orangtua — lalu, setelah rapi dari salon, dan full make-up, dengan rambut yang sudah dimodel se-trendy mungkin, bapak berkomentar, “Lho, mana kerudungnya? Katanya orang Islam.”

Oh well, that was my parents.

Mereka sukses membesarkan aku dalam paradoks yang akhirnya membuatku muak dengan semua yang berhubungan dengan hal-hal tradisional dan secara bersamaan, lingkungan tempat aku bekerja dan berkecimpung untuk hidup mandiri membuatku sukses untuk muak dengan hal-hal berbau ‘modern’ (yang semakin kemari aku semakin sadar standar ‘modern’ di negaraku ga ada apa-apanya dengan di barat.)

End of story, aku super eneg dengan paradoks modern vs tradisional.

Alhasil, aku memutuskan untuk menjalani hidupku dengan pragmatis. Melepaskan diri dari belenggu teori-teori yang diciptakan oleh orang-orang tertentu berdasarkan hidup ideal orang tersebut tanpa melek bahwa sesungguhnya yang diidealkan oleh mereka itu tidak masuk akal.

Contoh:

“I learned this, at least, by my experiment: that if one advances confidently in the direction of his dreams, and endeavors to live the life which he has imagined, he will meet with a success unexpected in common hours.” 


― Henry David ThoreauWalden: Or, Life in the Woods

Yang ga dibahas sama doi adalah: ketika dia sedang mengejar impiannya (semi bertapa di hutan), dia didukung oleh ibu dan saudara-saudara perempuannya untuk mengantarkan makanan dan setelan pakaian yang lezat dan bersih. Maka, kondisi yang dianggapnya ideal, sama dengan kondisi anak-anak jaman sekarang mulai dari mereka pre-school hingga mereka lulus sekolah (kalau orang tuanya berada, biasanya hingga mereka lulus kuliah, dan kalau orang tuanya kaya tujuh turunan, sampai mereka beranak cucu).

Dan opini seperti itu yang ingin dijadikan acuan oleh orang-orang yang berbeda standar kehidupan dengan dia? Boleh saja, tapi jika opininya dijadikan sesuatu yang “benar” di mata orang-orang yang merasa dirinya “educated” — kita perlu ngecek ulang standar edukasi dan moralitas di sekeliling kita.

Pada akhirnya, aku memilih untuk menjadikan Buddha sebagai patokan impianku. Tokoh spiritual yang dinobatkan paling populer generasi ini berbareng dengan Yesus Kristus.

Yes, Buddha, that guy who used to be a prince, then left all his wealth to go to the jungle and live amongst animals. And finally the public caught up with him and hailed him their leader.

(If you have another version of Buddha, let’s stick with mine, just for this post.)

Kenapa bukan Muhammad saw? Karena yang aku pahami saat ini legenda Nabi Muhammad sudah diabuse habis-habisan oleh mereka yang menjadikan Islam sebagai bisnis pribadi mereka. Mulai dari pemerintah (semua negara Arab, sebagian Afrika, dan Indonesia… kalo ada lagi negara lain silakan tambahin), pengusaha, sekolah, orangtua, hingga pasangan hidup kita.

What the heck? 

WARNING: RANT ** RANT ** RANT ** RANT ** RANT

Aku pernah menjadi anak muda yang tergila-gila dengan konsep ketuhanan yang romantis dan suci. Aku berkhayal dan mengidolakan Rabiah al-Adawiyah, sang sufi perempuan yang menolak untuk menikah saking cintanya terhadap Tuhan. I used to think Muhammad was the “it” guy for my future. But hey, I was that naive girl who finally broke my heart and somewhat G-d filled it with his presence.

Kemudian, setelah aku bolak-balik terjemahan kitab suci Islam, aku sadar hati kecilku berontak. It took me years to admit what my heart had omitted since the first time I heard the verses.

Why in Abrahamic religions women portrayed as the side who brought sin to human race?  Why did they teach that our ancestors (Adam and Eve — Adam dan Hawa) were thrown out of heaven, to earth, because they sinned?


What is sin?


Good Lord, how I despise the folklore. 

The idea is like watching “The Island” (Ewan McGregor and Scarlett Johansson) movie. This story of everything that happened in the past has been programmed into our minds. Pure brainwashing. The truth is: nothing happened. 


Stories happened. Imaginations happened.

Only a bunch of psychos who like to experiment over some people who were given a dose of the stories, whether they will believe it or not. What actions would they take to show their level of believe. How low or high would you go to reach heaven?


Oh right, of course there shall be a group of people who were shown images of some deceased people that they as a matter of fact entered either one. 


Then the portrayal of a heavenly space would emerge as per conditioned in that certain person’s mind. If he thinks heaven is a white beach full of money and beautiful women, there he goes. If hell is a view of devastating war fields, there he is.


Each version of heaven and hell could be modified depending on the person’s openness level. The more open you are to every thing, the more you realise that nothing exists outside of ourselves.


Everything that we perceived true, is only a reflection of our own truth.


Which goes to..

nothing.

That knowledge, you can only get it once you experience it. And no, you can’t get it by disowning your truth, following others’ truth, obeying the rigid rules created by people thousands of years ago. 


My version of truth is, the verses in our religious books are great metaphors to get us to where we’re supposed to be, which is: experiencing life to the fullness in joy and love. When you read it from a place of truth and love, you will know why many great Sufis love Islam teachings in the first place.


And so, as much as I despise current Islam shaded by ambitious fanatics, abusive governments, shallow ulama(s) and Islamic teachers — I am all for sufi teachings, especially by Jalal ad-Din Muhammad Rumi.

 

END OF RANT ** END OF RANT ** END OF RANT

Oke, ketika aku membahas tiga agama yang diturunkan via keturunan Nabi Ibrahim, aku juga melakukan riset dari website Judaism yang menurutku menarik, ramah untuk pembaca yang awam, dan mudah diakses.

Tapi hal ini ga mungkin bakal aku lakukan setengah dekade yang lampau.

Kenapa?

Heh, mau masuk neraka kau? Kasih selamat natal ke saudara yang Kristen atau Katolik saja sudah dianggap berdosa, apalagi ngecek kebenaran kitab Islam ke orang Yahudi yang konon bermusuhan dengan Islam hingga kiamat kelak.

(Now I read the statement again I realised how confined my thoughts in the past were. How immeasurably sick I was for yearning to fight my own fears. And how grateful I am for the presence of INTERNET!)

Kilas balik: Kita hidup di tengah masyarakat yang doyan mencela sesuatu yang mereka tidak pahami secara menyeluruh.

Menurutku, kebiasaan itu (satu dari sekian ribu kebiasaan buruk) terjadi karena mereka kurang kegiatan positif, kurang olahraga, kurang support keluarga dan teman, kurang kerjaan, kurang pendidikan, kurang teratur, kurang gizi, kurang sehat — kondisi serba kekurangan yang menyebabkan ketidakseimbangan yang memprihatinkan di seluruh badan masyarakat.

Dan menurut hukum alam, kondisi tidak seimbang akan selalu menyebabkan yang tidak baik merajalela, hingga akhirnya kondisi dikembalikan ke kondisi seimbang, atau semua mahluk yang terlibat mati.

Di Indonesia, ketidakseimbangan dalam masyarakat itu terjadi dalam skala beberapa kali lipat lebih besar dibandingkan dengan di negara maju seperti di Singapura, Jepang, Kanada, atau Eropa.

Karena itu, efek ketidakseimbangan di Indo terasa lebih cepat dengan hasil lebih dramatis.

Contohnya: penghasutan untuk membasmi kaum Ahmadiyah, jihad untuk Palestina, berjuang untuk ISIS, pengeboman di malam Natal, aksi kriminal dan vandalis yang dilakukan FPI atas nama *abused* Islam, dan kau pun bisa melanjutkan sendiri.

Bisa kita lihat, mereka yang berlomba-lomba untuk menghadiri penghasutan dengan dalil agama Islam kebanyakan adalah orang-orang yang seperti aku sebut diatas. Mereka yang melakukan kegiatan positif, rajin olahraga, hidup sehat, makan cukup, pendidikan tinggi, bekerja dengan optimal, dan memiliki dukungan keluarga dan pertemanan akan berpikir ribuan kali sebelum terlibat dalam salah satu contoh kegiatan tidak seimbang yang aku sebut diatas.

Kembali ke konteks awal: Di website Judaism yang aku baca-baca (http://www.jewfaq.org/), aku baru ngeh kalau posisi wanita di Yahudi jauh lebih dihormati daripada wanita di Injil atau Al Qur’an.

Di Talmud (semacam Haditsnya orang Yahudi):

– Wanita memiliki posisi yang sama dengan laki-laki.

– Kewajiban wanita berbeda dengan laki-laki namun memiliki kualitas yang sama penting

– Tuhan di Yahudi tidak pernah dalam bentuk (raga) laki-laki maupun wanita, intinya, Tuhan tidak berasal dari jenis kelamin manapun (ini lebih menyentil kaum Kristiani yang percaya Yesus itu adalah Tuhan mereka)

– Para istri Nabi (Sarah, Leah, Rebecca, Rachel) di Yahudi diceritakan lebih tinggi level ketaatannya dibandingkan pasangan mereka (Ibrahim, Isak, dan Yakub). Ketika umat Yahudi pada memuja patung sapi emas, para perempuannya tidak mengikuti upacara pemujaan tersebut.

– Dalam ajaran tradisional, diceritakan bahwa wanita memiliki intuisi, pemahaman, dan kecerdasan yang melebihi para kaum laki-laki.

– Banyak Rabbi (pemuka agama Yahudi) yang berkonsultasi dengan para istri mereka (disebut rebbetzin) dalam menentukan hukum untuk umat Yahudi yang wanita. (Rekam: Apakah di Islam para ulama menentukan ajaran untuk kaum muslimah setelah berkonsultasi ke istri (atau para istri) mereka?)

– Hukum untuk melakukan hubungan suami istri di Yahudi merupakan hak sang istri. Suami tidak berhak untuk memukul atau bersikap menyakiti pada istrinya. Hubungan suami istri yang dilakukan setelah menikah namun sang istri belum mengijinkan tetap dianggap pemerkosaan. (WOW, gimana aku ga mau respek dengan ajaran tradisional kaum Yahudi??? Halo para pemaksa ajaran Islam yang menganggap wanita sebagai barang, sebagai properti suami mereka, sebagai suatu entitas yang tidak memiliki hak selain jika diberikan oleh anggota keluarga mereka yang lelaki: you are so disgusting! OK, especially you, you know who you are.

– Dalam kasus pemerkosaan, wanita pada umumnya dianggap TIDAK menginginkan hal itu terjadi. (Rekam: Berbeda dengan hukum jaman sekarang yang menyama-nyamakan kesalahan para laki-laki yang memperkosa, dengan para wanita yang dianggap “menyebabkan” pemerkosaan terjadi. Entah karena sikap mereka yang menggoda, atau pakaian yang menerawang, atau jalan-jalan sendirian pada malam hari di tempat sepi, dan berbagai alasan lain yang menunjukkan laki-laki yang lemah syahwat itu normal, namun wanita yang berkegiatan sendirian itu tidak normal.)

– Peran wanita secara tradisional berpusat pada tugasnya sebagai ibu maupun sebagai istri. Namun di Talmud, tugas rumah wanita dianggap sangat penting sehingga untuk melakukan ibadah, dianjurkan para wanita untuk tidak meninggalkan tugas utama mereka (mengurus anak atau pun rumah) terlebih dulu.

– Seorang pria Yahudi yang menikahi wanita non-Yahudi anaknya tidak otomatis menjadi Yahudi yang taat. Namun jika wanita Yahudi menikahi pria non-Yahudi maka anak mereka otomatis menjadi umat Yahudi yang taat. Hal itu dikarenakan pengaruh spiritual sang Ibu lebih kuat diserap oleh anak-anak mereka dibanding spiritual sang Bapak. (Rekam: Aku setuju dengan pendapat bahwa level spiritual ibu lebih mempengaruhi anak-anak dibanding level spiritual bapak karena dilihat dari budaya penganut agama Ibrahim dimana tugas membesarkan anak lebih dikuasai seorang ibu, maka otomatis pengaruh ibu ke anak lebih kuat. Jika anak dibesarkan suster atau pembantu, sebaiknya cari yang agamis juga ya kalo mau level spiritual anak-anaknya kuat. As simple as that.)

– Perempuan dianjurkan untuk tidak mengejar ibadah dan edukasi lebih tinggi di Yahudi oleh para Rabbi mereka karena dianggap wanita yang melakukan ibadah dan belajar tinggi akan meninggalkan tugas mereka yang utama sebagai ibu dan istri di sebuah rumah tangga. Para Rabbi tidak melarang karena menganggap para wanita itu kurang (tidak cukup) spiritual, namun karena takut jika para wanita menjadi pelaku ibadah yang terlalu taat.

NAMUN   TENTU   SAJA   ADA   BAGIAN   DI   AJARAN   TRADISIONAL   YAHUDI   DIMANA   WANITA   DIJELEK-JELEKKAN,   DIANGGAP   PENYEBAR   AJARAN   SIHIR,   DIANGGAP   PEMALAS,   RAKUS,   SERAKAH,   DAN   BERBAGAI   SIFAT   KREATIF   YANG   NEGATIF   LAINNYA. 

– Versi turunnya Adam dan Hawa dari surga disertai dengan keberadaan iblis bernama “Lilith” (yang makin kemari berkembang sebagai setan wanita yang senang menggoda laki-laki kesepian dan disanjung sebagai symbol oleh para feminis yang ga paham asal-usul karakter ini) yang konon merupakan istri pertama Adam, namun karena doyan posisi seks di atas (woman on top), Lilith dianggap terlalu mendominasi Adam, akhirnya diciptakan Hawa (Eve) yang lebih penurut dan nerimo. Sisanya mirip dengan ajaran-ajaran di Injil dan Qur’an.

Boring.

Dan masih banyak lagi kutipan-kutipan ajaran Yahudi dari Talmud yang dibedah oleh penulis konten website tersebut yang sungguh menarik dan berguna untuk digali.

Nabi Muhammad dianjurkan menurut Qur’an untuk bertanya mengenai kisah-kisah lama ke para Ahli Kitab untuk mengecek kebenarannya. Meskipun pengertian ayat Qur’an tersebut menurut pembela Islam bisa dibaca disini, menurutku ayat tersebut memberi lampu hijau untuk orang-orang belajar mengenai sejarah agama-agama Ibrahim secara keseluruhan.

Why would I want to confine my understanding of G-d to a single religious teaching just because I happen to live in a country where the majority is Islam and my family of origin were muslims?

Why would you?

Tapi untuk sinar objektifitas mengenai trauma dan ketakutan orang Islam menghadapi Yahudi dan Kristiani, padahal sejujurnya aku bisa menjamin mayoritas orang-orang Islam di Indo yang super fanatik tidak pernah kenal langsung keburukan orang Yahudi untuk bisa memahami kenapa mereka memilih untuk memusuhi orang-orang yang ga pernah ada sangkut pautnya dengan mereka. Secara fisik.

Sebagian orang Islam di Indonesia (terutama yang fanatik dan ambisius) itu miskin. Miskin ilmu (skill), miskin kecerdasan (intelligence), miskin kerjaan, miskin kegiatan, miskin tujuan, miskin impian, miskin kesehatan, miskin ilmu pengetahuan (knowledge), miskin pengalaman, miskin perhatian, miskin ibadah, miskin kedamaian, dan miskin kejujuran.

Bagaimana mereka bisa memiliki kejujuran yang hakiki jika dari kecil mereka tidak diajari untuk percaya pada inti dari diri mereka sendiri (core of being)? Wong yang ngajarin ga paham mengenai inti dari diri mereka sendiri, bagaimana bisa mengajarkan ke anak-anak didikannya untuk menjadi diri mereka yang sejati?

Akhirnya yang mereka lakukan adalah menarik komunitas sekeliling mereka ke kolam stagnasi yang tidak membawa mereka kemana-mana. Mereka seperti lumpur penghisap, yang bekerja 1000 kali lipat lebih kuat daripada lumpur penghisap di hutan-hutan lindung.

Yang boleh pintar hanya mereka yang jauh dari komunitas mereka (biasanya bukan non Muslim, atau orang Islam yang membuka diri). Yang menjalankan hidup mereka dengan penuh dan jujur. (When I said honest, I mean honest to your soul, not only honest to beings around you.)


Dan akhirnya, orang-orang Islam yang berkumpul di dalam lumpur penghisap itu sangat cepat menyerap hal-hal negatif mengenai apapun yang disampaikan oleh pemimpin mereka. Dan kecenderungan mereka adalah total absolutism.

Absolutisme adalah sistem dimana seluruh kekuasaan (power) dipegang oleh satu atau beberapa individu yang mengontrol sebuah grup atau masyarakat. Disini, diktatornya adalah ajaran agama (Qur’an dan Hadits). Pelakunya adalah para pemuka agama. Apapun yang doi/mereka ucap, selama mengutip Al Qur’an atau Hadits, sifatnya pasti benar dan wajib dituruti.

Jadi, ketika sang pemuka agama, yang ga pernah kenal orang Yahudi seumur hidup mereka berkat hidup di desa Jawa atau Sumatera atau Sulawesi sejak kecil hingga beranak cucu, menonton berita bahwa penduduk Palestina dibantai oleh tentara Israel, ia merasa tiba waktu baginya untuk menyampaikan ke kaumnya, “Kita harus membela Palestina, saudara kita sesama muslimin di tanah Israel. Kita harus jihad melawan orang-orang kafir!”

Tentu saja respon dari kaumnya adalah, “Setuju!! Ganyang Israel! Jihad melawan Yahudi!”

In the end, para pengikutnya, karena hanya belajar dari satu sumber pengajar, tidak pernah berani mempertanyakan apapun yang dilakukan oleh grupnya.

Jika ada yang nekat bertanya, “kenapa kita melakukan ini?” akan dicap sebagai penghianat. Atau dijelek-jelekkan kredibilitasnya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang penuh dengan dosa.

Yang tidak tahan dengan kondisi itu biasanya mendapatkan pencerahan untuk melepaskan diri dari ikatan grup tersebut, namun tidak semua orang cukup beruntung untuk mengalami itu. Kebanyakan, yang tidak setuju menahan-nahan isi hati mereka, tetap memperlihatkan sikap menurut karena tidak enak dengan tetangga, keluarga, maupun rekan sejawat, dan akhirnya, kondisi tertekan itu menyebabkan kondisi fisiknya melemah, kemudian sakit-sakitan dan meninggal.

But you can change your outcome.

** intermezzo ** intermezzo **

(Rekam: media di Indonesia isinya hampir sama semua. Cara penyampaiannya hampir sama semua. Menunjukkan, level pengetahuan yang diekspektasi oleh media untuk bisa menyampaikan pesan mereka adalah hampir sama semua.)


Hampir disini mewakili 0.05% penduduk di Indonesia yang tidak tahan dengan patokan yang diambil masyarakat berdasarkan kaca mata kuda yang mereka kenakan berkat terbatasnya pengetahuan.

Mereka yang memiliki paradigma yang berbeda, tidak atau belum memilih untuk bersuara. Belum ada yang terjun ke lapangan dan meminta para pemain dan pengawas permainan untuk mengubah aturan permainan.

We need a voice.


We need a change.

Aku bosan melihat kata-kata “aku cinta Indonesia” namun berhenti disitu. Terus apa. Maunya gimana. Cinta kalau cuman ngomong doang kakaktua juga bisa.

What do you do in proclaiming love to your country? 


You go abroad, and come back to work in Indo, and then, what change do you bring? Making a business, a successful one, people may said, then what? Who profited that if not you and your family? Which part of loving your country resonate with making business in Indo?


Teaching stuff that you learn abroad, then what? 


Do you know that by refusing to allow corruption in Indo works better in loving your country?


Do you know that by respecting other people from other religions that is very different from Sunni Islam works better in loving your country?


Do you know that by reducing forest destructions and helping the animals in all Indonesia works WAAAAAAYYYY better in loving Indonesia?


Or by focusing growth of human equally in equal parts of various islands in Indo. Or by increasing the quality of human resources. Or by encouraging equality between men and women. Or by reducing the traffic jam in the cities.


So many more significant ways to love your country than just by proclaiming it via sad dastardly words.

END ** END ** END ** END ** END ** END ** END ** END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s